Salah Setelan Klep Menuai Masalah

Setel Klep
Penyetelan celah klep sangat penting dilakukan dalam periodik tertentu. Karena seiring penggunaan, bukan tak mungkin menyebabkan clearance-nya berubah yang akan berdampak ikut berubahnya durasi maupun lift klep. Kalau tetap mau performa mesin optimal, ya kudu disetel ulang.

MotoBike – Tapi soal setelan klep ini, ternyata banyak lo yang suka salah kaprah. Terutama pada besutan yang pelatuknya dilengkapi roller. Mentang-mentang ada motor lain yang juga pakai roller, celah klep disamakan. Padahal belum tentu seperti itu!

Oh iya, teknologi roller rocker arm diawali pada Honda Karisma/Supra X 125 atau TVS Neo. Memang motor ini menganut kerenggangan klep yang sangat rapat, yaitu 0,03 mm dengan toleransi ± 0,02 mm.

Begitu Vario, BeAT, Blade dan lainnya yang dibekali teknologi serupa, banyak yang menyetel sama rapatnya atau mendekati Karisma. Ternyata hal itu salah besar!

“Memang secara teori pelatuk yang pakai roller bikin gesekan lebih kecil. Tapi kudu diingat, celah klep sangat dipengaruhi rasio kompresi,” wanti Endro Sutarno, Technical Training Instructor Astra Honda Training Center (AHTC) PT AHM. Faktor lain yang turut mempengaruhi yakni sistem pendinginan.

Masih kata Endro, dengan rasio kompresi tinggi, panas yang ditimbulkan mesin biasanya bakal lebih cepat. Sehingga mengakibatkan pemuaian logam pada komponen di kepala silinder ikutan cepat. Salah satunya batang klep.

Nah, jika setelan klep dibikin lebih rapat dari seharusnya, maka saat panas meningkat, setelan klep akan semakin rapat. Efek yang terjadi timing buka-tutup klep tak optimal. Sehingga biasanya bakal bikin tenaga lemes di putaran tinggi.

Paling apes jika pelatuk tetap mendorong ujung klep saat seharusnya bebas (saat top kompresi), sehingga tak menutup sempurna dan kompresi pun bocor. Tentu saja mesin tak mau hidup alias mogok.

Kendala ini sering dialami pemakai Honda Vario yang servis di bengkel umum. Cirinya sangat gampang, tiba-tiba motor mogok saat jalan, bila diengkol terasa ngelos. Nah jika didiamkan beberapa menit bisa hidup lagi. “Ketika suhu mulai turun, celah klep kembali merenggang,” lanjut Endro. Nah lo, ketahuan deh masalah Vario, BeAT yang suka mati mendadak!

Honda Vario yang punya rasio kompresi mencapai 10,7:1, menurut data pabrikan setelan klep in 0,16 mm dan ex 0,25 dengan toleransi 0,02 mm. Bandingkan dengan Karisma yang hanya 9,0:1, makanya hanya 0,03 mm.

Lalu Honda BeAT dengan kompresi 9,2:1 dipatok in dan ex sama 0,14 mm. New Mega Pro sedikit lebih tinggi, yakni mencapai 9,5:1 punya setelan optimal 0,08 mm dan 0,12 mm. Kok sedikit lebih rapat ya?

Seperti disebutkan, faktor pendinginan juga ikut mempengaruhi. New Mega Pro dengan silinder berdiri lebih gampang terkena embusan angin. Beda dari BeAT yang pakai embusan udara paksa dari kipas.

Oh iya, kenapa celah klep ex selalu lebih renggang? “Karena suhu kerja klep buang memang lebih panas,” lanjut pria yang berkantor di Sunter, Jakut ini. Wajar saja, suhu gas sisa pembakaran kan memang panas, kalau klep in yang dilewati udara segar dan bensin pasti lebih dingin.

Paham kan? • Aant

http://www.mymotobike.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s