MENJAGA PERFORMA, MENINGKATKAN KINERJA KAWASAKI ATHLETE

Awal 2009 Kawasaki membuat terobosan dengan meluncurkan Athlete. Diproduksi untuk membidik segmen remaja dengan sasaran segmen di bawah pasar Satria-F tapi di atas bebek jantan 125 cc. Cermat juga Kawasaki dalam hal ini. Sebab Satria-F yang jadi idola remaja dengan performa mesin yang tinggi, harganya kian melambung.

Ceruk pasar ini memang beralasan untuk dimasuki Athlete, sebab untuk mencari ergonomi family sport Athlete bisa menjadi jawabannya. Dengan tongkrongan khas ayam jago nya, serta gaya ergonomi menungging nya, belum lagi fitur monosok yang dirancang dengan konsep Bottomlink Unitrak Monoshock System, motor berbanderol Rp 15 jutaan itu jadi lebih mudah membius penyuka bebek sport.

Usianya saat ini pun hampir memasuki 2 tahun. Seiring dengan tongkrongannya yang sport, rata-rata penggunanya juga doyang ngebut. Apa saja sih efek perlakuan pengguna Athlete yang diklaim berada di jajaran bebek sport ? Baik sektor non mesin dan mesinnya ! 

HINDARI MENAMBAH MINYAK REM
Ini berlaku buat seluruh motor yang menggunakan rem cakram. Tanda atau marking low – high pada reservoir minyak rem, sebenarnya tak hanya dijadikan sebagai hiasan atau batas pengisian minyak rem. Lebih cermat nya, tanda ini jadikan sebagai indikator mulai habis nya permukaan kampas cakram.

Pasal itu berkurangnya kapasitas minyak rem jangan diatasi dengan menambah kapasitas minyak rem. Karena hal itu akan menyulitkan ketika melakukan penggantian kampas cakram. Sebab, dengan menambah kapasitas minyak rem pada reservoir, saat mengembalikan posisi piston kaliper pada kondisi bebas akan tertahan oleh kapasitas minyak rem. Kala kaliper terpasangpun akan susah masuk di celah cakram. Kalaupun bisa terpasang, putaran roda dan cakram jadi berat.

Mau tak mau tabung reservoir mesti ikutan dibongkar untuk mengurangi kapasitaas minyak rem. Agar permukaan kampas cakram dengan cakram memiliki toleransi ideal.

ROBEK FILTER UDARA
Dari sisi mekanis dan kebutuhan kerja mesin, tangki yang lebih dekat dengan karbu memang lebih baik. Sebab, suhu BBM akan terjaga lebih bagus pada kondisi dingin. Inilah yang sangat menunjang mekanis kerja karbu. Akurasi debit BBM jadi lebih terjamin, sesuai dengan bukaan handgrip. Maka perlu diimbangi pula dengan kapasitas udara yang mumpuni, baik awal start jalan maupun di top speed.

Rapatnya model filter Athlete yang menganut jenis elemen, mudah menjadi kendala pincangnya campuran BBM atau terlalu pekat. Kondisi ini menguntungkan di top speed, mesin jadi lebih bertenaga. Tapi, akselerasi bawah BBM mubazir terbuang. Konsekuensinya, filter elemen nya bisa dirobek 2-3 strip untuk menghasilkan konsumsi udara yang lebih meningkat, sesuai dengan kualitas tipikal BBM yang dikonsumsi.

GANTI PISTON DOME
Berpengalaman dalam beradu ketahanan, performa, serta tenaga. Seiring kecenderungan bebek 4 tak berlomba irit, maka konsep tipikal mesin dirancang presisi dalam perhitungan pancapaian tenaga. Athlete murni berkapasitas 124,6 cc, serta perbandingan Kompresi rendah 9,8 : 1. Tipikal over square nya, dihasilkan silinder 56 mm dan stroke 50,6 mm.

Tipikal demikian ini power mesin di gasingan bawah tak terlalu terforsir dan hebat saat di top speed. Spesial pengguna yang penyuka touring memang cocok, tapi buat melahap jalanan metropolis terasa kurang agresif. Eman dan sayang dong kalau main pangkas silinder cop atau blok silinder. Lebih baik saat oversize piston berlangsung, pakai saja piston bertipikal dome untuk mendapat perbandingan kompresi lebih besar.

SETINGAN KARBU
Sokongan karbu Keihin PB 18 mm, juga lebih presisi kalau dibandingkan dengan kapasitas mesinnya. Di sektor ini bisa diseting ulang untuk mengisi kekurangan tenaga mesin yang dipeerlukan. Sesuai dengan hasil seting, komposisi main jet 112 ddan pilot jet 22, bisa dijadikan pedoman khusus nya pengguna Athlete yang demen luar kota. Sebaliknya buat konsumsi metropolis, dapat memakai main jet 105 dan pilot jet 22.

PESAWAT KOPLING
Tak mutlak dilakukan, hanya saja perlu dipertimbangkan lebih lanjut ketika meninjau konturksi kopling house Kaze yang dilengkapi dengan enam pegas kopling sebagai media penjepit plat kopling dan kampas kopling.

Athlete hanya dilengkapi 4 pegas kopling dengan tipikal pegas lebih kenyal dan tinggi dibanding milik Kaze. Distribusi tekanan pegas antara plat dan kampas kopling jadi lebih rata ketika memakai 6 pegas kopling. Maka pemakaian kopling house Kaze bisia dijadikan pilihan untuk penggantinya. Agar akselerasi di setiap perpindahan gigi transmisinya lebih menggigit dan tak mengalami delay.

MEMBUAT KAKI-KAKI LEBIH NYAMAN

Sok depannya mantap dengan fork slider 41 mm dan inner tube 30 yang memiliki posisi sudut lebih tegak. Bantingan stang kemudi jadi lebih ringan dan lincah. Apakah juga mantap ketika dipakai keluar kota  yang tentu dituntut optimal meredam hentakan saat melakukan pengereman maupun manuver panjang ? Sedikit kurang mantap dan terlalu empuk.

Cukup disiasati dengan penambahan kapasitas oli sok, cukup 15 cc setiap tabungnya. Sedang, konstruksi monosok nya yang menganut Bottomlink Unitrak Monoshock System, juga riskan dituumpuki kotoran. Posisi monosok nya yang rebah, juga berpeluang meruusak sil. Peencegahan mesti dilakukan dengan penambahan plastik atau karet untuk menangkis percikan kotoran yang berpeluang mengenai monosok.

MINUS INDIKATOR FUEL METER
Bagaimana mengatasinya untuk menjaga agar tangki tak sampai kehabisan bensin ? Cukup pakai perhitungan 1 liter : 40 Km. Jadi saat akan menempuh perjalanan, kalikan 40 Km dengan angka 5 sebagai kapasitas tangki Athlete. Kemudian tambahkan 200 Km pada odometer.

Misalnya, kala odometer nya terdata 20.000 Km, maka sebelum memasuki atau mendekati hitungan 20.200 Km, mampir saja ke pom bensin. Dengan pedoman simpel dipasttikan lebih aman dan tak was-was, sekalipun trayek yang ditempuh banyak tanjakannya.

MEMBENAHI PIRANTI PENGEREMAN
Sudah menjadi menu wajib bagi Athlete. Performa mesin yang disokong perbandingan gigi rasio rapat dan first reduction yang ringan, menjadikan akselerasi nya ringan. Dalam menu pemakaian ciet depan lebih aktif, begitu dengan cakram belakangnya.
Yang terjadi pada Athlete, ausnya kampas cakram lebih disebabkan oleh 2 faktor yang berbeda. Bila terjadi kampas cakram terbakar dan ausnya permukaan pad kampas, lebih disebabkan dari aktif nya pemakaian.
Sedang kampas cakram belakang lebih cenderung disebabkan oleh kotoran percikan lumpur yang mudah nempel di permukaan cakram. Secara fisik indikasi penggantiannya mudah dilakukan dari perbedaan ketebalan kampas cakram dengan kondisi baru. | pid

(www.ototrend.com)

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s